Sabtu, 16 Juni 2012

laporan praktikum farmakologi


Percobaan I
PENGARUH CARA PEMBERIAN TERHADAP ABSORPSI OBAT
I.             TUJUAN
1.      Mahasiswa dapat memperlakukan dan menangani hewan percobaan seperti mencit dan tikus untuk percobaan farmakologi dengan baik.
2.      Mahasiswa dapat mengenal dan mempraktekkan cara pemberian obat dengan berbagai rute.
II.          DASAR TEORI
RUTE PEMBERIAN OBAT
Rute pemberian obat menentukan jumlah dan kecepatan obat yang masuk kedalam tubuh, sehingga merupakan penentu keberhasilan terapi atau kemungkinan timbulnya efek yang merugikan. Rute pemberian obat dibagi 2, yaitu enternal dan parenteral (Priyanto, 2008).
1.      Jalur Enternal
Jalur enteral berarti pemberian obat melalui saluran gastrointestinal (GI), seperti pemberian obat melalui sublingual, bukal, rektal, dan oral. Pemberian melalui oral merupakanjalur pemberianobat paling banyak digunakankarena paling murah, paling mudah, dan paling aman. Kerugian dari pemberian melalui jalur enternal adalah absorpsinya lambat, tidak dapat diberikan pada pasien yang tidak sadar atau tidak dapat menelan. Kebanyakan obat diberikan melalui jalur ini, selain alasan di atas juga alasan kepraktisan dan tidak menimbulkan rasa sakit. Bahkan dianjurkan jika obat dapat diberikan melalui jalur ini dan untuk kepentingan emergensi (obat segera berefek), obat harus diberikan secara enteral.
2.      Jalur Parenteral
Parenteral berarti tidak melalui enteral. Termasuk jalur parenteral adalah transdermal (topikal), injeksi, endotrakeal (pemberian obat ke dalam trakea menggunakan endotrakeal tube), dan inhalasi. Pemberian obat melalui jalur ini dapat menimbulkan efek sistemik atau lokal. Tabel 1 merupakan deskripsi cara pemberian obat, keuntungan, dan kerugiannya.
Tabel 1. Keuntungan dan Kerugian dari Masing-masing Jalur Pemberian Obat.
Dskripsi
Keuntunagn
Kerugian
Aerosal
Partikel halus atau tetesan yang dihirup
Langsung masuk ke paru-paru
Irtasi pada mukosa paru-paru atau saluran pernafasan, memerlukan alat khusus, pasien harus sadar.
Bukal
Obat diletakkan diantara pipi dengan gusi
Obat diabsorpsi menembus membran
Tidak sukar, tidak perlu steril, dan efeknya cepat
Tidak dapat untuk obat yang rasanya tidak enak, dapat terjadi iritasi di mulut, pasien harus sadar, dan hanya bermanfaat untuk obat yang sangat non polar
Inhalasi
Obat bentuk gas diinhalasi
Pemberian dapat terus menerus walaupun pasien tidak sadar
Hanya berguna untuk obat yang dapat berbentuk gas pada suhu kamar, dapat terjadi iritasi saluran pernafasan
Intramuskular
Obat dimasukkan kedalam vena
Absorbsi cepat, dapat di berikan pada pasien sadar atau tidak sadar
Perlu prosedur steril, sakit, dapat terjadi infeksi di tempat injeksi
Intravena
Obat dimasukkan ke dalam vena
Obat cepat masuk dan bioavailabilitas 100%
Perlu prosedur steriil, sakit, dapat terjadi iritasi di tempat injeksi, resiko terjadi kadar obat yang tinggi kalau diberikan terlalu cepat.
Oral
Obat ditelan dan diabsorpsi di lambung atau usus halus
Mudah, ekonomis, tidak perlu steril
Rasa yang tidak enak dapat mengurangi kepatuhan, kemungkinan dapat menimbulkan iritasi usus dan lambung, menginduksi mual dan pasien harus dalam keadaan sadar. Obat dapat mengalami metabolisme lintas pertama dan absorbsi dapat tergganggu dengan adanya makanan
Subkutan
Obat diinjeksikan dibawah kulit
Pasien dapat dalam kondisi sadar atau tidak sadar
Perlu prosedur steril, sakit dapat terjadi iritasi lokal di tempat injeksi
Sublingual
Obat terlarut dibawah lidah dan diabsorpsi menembus membran
Mudah, tidak perlu steril dan obat cepat masuk ke sirkulasi sistemik
Tidak dapat untuk obat yang rasanya tidak ennak,dapat terjadi iritasi di mulut, pasien harus sadar, dan hanya bermanfaat untuk obat yang sangat larut lemak
Transdermal
Obat diabsorpsi menembus kulit
Obat dapat menembus kulit secara kontinyu, tidak perlu steril, obat dapat langsung ke pembuluh darah
Hanya efektif untuk zat yang sangat larut lemak, iritasi lokal dapat terjadi
(Priyanto, 2008)
ADSORPSI
Adsorpsi merupakan proses masuknya obat dari tempat pemberian ke dalam darah bergantung pada cara pemberiannya, tempat pemberian obat adalah saluran cerna (umlut sampai dengan rectum), kulit, paru,otot, dan lain lain. Yang terpenting adalah cara pemberian obat per oral dengan cara ini tempat absorbs utama adalah usus halus karena memiliki permukaan absorbsi yang sangat luas, yakni 200m2.(Anonim,2007)
            Pemberian obat di bawah lidah hanya untuk obat yang  sangat larut dalam lemak, karena luas permukaan absorbsinya kecil sehingga obat harus melarut dan diabsorbsi dengan sangant cepat, karena darah dari mulut langsung ke vena kava superior dan tidak melalui vena porta, maka obat yang diberikan sublingual ini tidak mengalami metabolisme lintas pertama oleh hati.(Anonim,2007)
            Pada pemberian obat melalui rektal misalnya untuk pasien yang tidak sadar atau muntah, hanya 50% darah dari rectum yang melalui vena porta, sehingga eliminasi lintas pertama oleh hati juga hanya 50%. Akan tetapi, adsorpsi obat melui rectum sering kali tidak teratur dan tidak lengkap dan banyak obat menyebabkan iritasi rectum.(Anonim,2007)
HUBUNGAN ANTARA HEWAN UJI DENGAN MANUSIA
            Peningkatan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bidang kesehatan dibarengi dengan peningkatan kebutuhan akan hewanuji terutama mencit. Penggunaan mencit ini dikarenakan relatif mudah dalam penggunaanya, ukurannya yang relatif kecil, harganya relatif murah, jumlahnya peranakannya banyak yaitu sekali melahirkan bisa mencapai 16-18 ekor, hewan iotu memiliki sistem sirkulasi darah yang hampir sama dengan manusia serta tidak memiliki kemampuan untuk muntah karena memiliki katup dilambung. Sehingga banyak digunakan untuk penelitian obat (Marbawati, 2009).
            Perbedaan antara tikus dan manusia cukup besar. Memang suatu percobaan farmakologi maupun toksikologi hanya dapat berarti bila dilakukan pada manusia sendiri. Tetapi pengalaman telah membuktikan bahwa hasil percobaan farmakologi pada hewan coba dapat diekstrapolasikan pada manusia bila beberapa spesies hewan pengujian menunjukkan efek farmakologi yang sama.(Anonim,2007)
            Ditinjau dari system pengelolaannya atau cara pemeliharaannya, dimana factor keturunan dan lingkungan berhubungan dengan sifat biologis yang terlihat / karakteristik hewan percobaan, maka ada 4 golongan hewan yaitu:
1.      Hewan Liar
2.      Hewan yang konvensional, yaitu hewan yang dipelihara secara terbuka
3.      Hewan yang bebas kuman spesifik pathogen, yaitu hewan yang dipelihara dengan system barrier ataut ertutup
4.      Hewan yang bebas sama sekali dari benih kuman, yaitu hewan yang dipelihara dengan system isolator(Sulaksono,M.E.,1992).
Semankin meningkat cara pemliharaan, semakin sempuran pula hasil percobaan yang dilakukan. Dengan demikian, apabila suatu percobaan dilakukan dengan hewan percobaan yang liar, hasilnya akan berbeda bila menggunakan hewan percobaan konvensional ilmiah maupun hewan yang bebas kuman.( Sulaksono,M.E.,1992).
CARA MEMEGANG HEWAN ATAU HANDLING
            Masih dalam rangka pengelolaan hewan percobaan secara keseluruhan, cara memegang hewan perlu diketahui. Cara memegang hewan dari masing-masing jenis hewan adalah berbeda – beda dan ditentukan oleh sifat hewan, keadaan fisik (besar atau kecil) serta tujuannya. Kesalahan dalam caranya akan dapat menyebabkan kecelakaan atau hips ataupun rasa sakit bagi hewan (iniakan menyullitkan dalam melakukan penyuntikan atau pengambilan darah) dan juga bagi orang yang memegangnya.( Sulaksono,M.E.,1992)
INJEKSI
            Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspensi, serbuk yang harus dilakukan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan secara merobek jaringan kedalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. Pemberian injeksi merupakan prosedur infasif yang harus dilakukan dengan teknik steril. Pada umumnya injeksi dilakukan dengan tujuan untuk mempercepat proses penyerapan atau absorpsi obat untuk mendapatkan efek obat yang cepat.
III.           CARA PERCOBAAN
A.    Alat dan Bahan
Alat :
1.      Spuit injeksi 1-2 ml                             1 buah
2.      Jarum sonde besar                               1 buah
3.      Jarum sonde kecil                                1 buah
4.      Sarung tangan 
Bahan :     
1. Garam Fisiologis NaCl 0.9 %

B.     Langkah Kerja
a.      Pada mencit
NaCl 0,9%
Per oral            subcutan          intra muskular             intra peritoneal
 Sonde                                     jarum suntik
                                                Mencit




b.      Pada tikus
NaCl 0,9%
Per oral            subcutan          intra muskular             intra peritoneal
 Sonde                                     jarum suntik
                                                  tikus
IV.             HASIL
a.       Per oral
Parameter
Mencit
Tikus
Letak rute pemberian
Melalui mulut dengan jarum sonde
Melalui mulut dengan jarum sonde
Kondisi sebelum pemberian
Sehat, tidak stres, lebih aktif
Sehat, tidak stres
Kondisi setelah pemberian
Tetap aktif, tidak lemas
Tetap aktif, tidak lemas
Berhasil / tidak dilakukan
Berhasil
Berhasil

b.      Subcutan
Parameter
Mencit
Tikus
Letak rute pemberian
Melalui bawah kulit pada bagian tengkuk hewan uji
Melalui bawah kulit pada bagian tengkuk hewan uji
Kondisi sebelum pemberian
Sehat, tidak stres, lebih aktif
Sehat, tidak stres
Kondisi setelah pemberian
Tetap aktif, tidak lemas
Tetap aktif, tidak lemas
Berhasil / tidak dilakukan
Berhasil
Berhasil

c.       Intra muscular
Parameter
Mencit
Tikus
Letak rute pemberian
Melalui otot dibagian pangkal paha
Melalui otot dibagian pangkal paha
Kondisi sebelum pemberian
Sehat, tidak stres, lebih aktif
Sehat, tidak stres
Kondisi setelah pemberian
Tetap aktif, tidak lemas
Tetap aktif, tidak lemas
Berhasil /tidak dilakukan
Berhasil
Berhasil

d.      Intra peritoneal
Parameter
Mencit
Tikus
Letak rute pemberian
Diinjeksikan melalui rongga perut (tidak sampai masuk ke usus)
Diinjeksikan melalui rongga perut (tidak sampai masuk ke usus)
Kondisi sebelum pemberian
Sehat, tidak stres, lebih aktif
Sehat, tidak stres
Kondisi setelah pemberian
Tetap aktif, tidak lemas
Tetap aktif, tidak lemas
Berhasil / tidak dilakukan
Berhasil
Berhasil
V.              PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini bertujuan untuk mengenal, mempraktikan, dan membandingkan cara-cara pemberian obat terhadap kecepatan absorbsi obat. Masing-masing cara pemberian memiliki keuntungan dan manfaat tertentu. Suatu senyawa obat mungkin efektif jika diberikan dengan cara tertentu namun kurang efektif dengan cara lain. Perbedaan ini akan berefek pada kecepatan absorbsi yang berpengaruh pada efektifitas obat.
Hewan uji yang digunakan hanya mencit dan tikus karena ketersediaanya. Masing-masing digunakan 2 ekor mencit dan 3 ekor tikus. Dilihat dari perbedaan karakteristik kedua hewan, terasa lebih mudah dalam menangani tikus meskipun ukuran badannya lebih besar dibanding mencit.
Adapun untuk mencit cara memegang yang benar agar siap untuk diberi sediaan yaitu denagn cara. Awalnya ujung ekor mencit diangkat dengan tangan kanan ataupun kiri ( tergatung nyamannya praktikan). Kemudian telunjuk dan ibu jari tangan kiri menjepit kulit tengkuk, sedangkan ekornya tetap dipegang dengan tangan kanan (ataupun sebaliknya). Selanjutnya, posisi tubuh mencit dibalikkan, sehingga permukaan perut menghadap kita dan ekor dijepitkan diantara jari manis dan kelingking tangan kiri.     
Sedangkan penanganan untuk tikus diperlakukan sama seperti mencit, tetapi bagian ekor yang dipegang sebaiknya pada bagian pangkal ekor dan pegangnya pada bagian tengkuk bukan dengan memegang kulitnya. Sperti ini langkahnya. Pertama, tikus diangkat dengan memegang dari belakang dan kemudian diletakkan di atas permukaan kasar. Kemudian tangan kiri diluncurkan perlahan – lahan dari belakang tubuhnya menuju kepala. Lalu ibu jari dan telunjuk diselipkan ke depan dan kaki kanan depan di jepit diantara kedua jari tersebut.
Hal yang perlu diperhatikan sebelumnya adalah kita harus melakukan pendekatan terlebih dahulu terhadap hewan uji. Tujuannya agar nantinya mencit ataupun tikus tersebut lebih mudah untuk dipegang. Jangan justru membuat mencit ataupun tiku stres, membuatnya berontak yang bisa melukai diri kita sendiri. Berikut adalah faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi mencit diantaranya adalah kebisingan suara di dalam laboratorium, frekuensi perlakuan terhadap mencit tersebut, dan lain-lain. Dalam menangani mencit, semua kondisi yang menjadi faktor internal dan eksternal dalam penanganan hewan percobaan harus optimal, untuk menjaga kondisi mencit tersebut tetap dalam keadaan normal. Apabila kondisinya terganggu, maka mencit tersebut akan mengalami stress. Kondisi stress yang terjadi pada mencit akan mempengaruhi hasil percobaan yang dilakukan.
Obat yang diinjeksikan pada mencit merupakan larutan NaCl fisiologi. Untuk keperluan percobaan, digunakan larutan ini karena kandungan dan sifat larutan tersebut merupakan bahan yang juga terkandung dalam tubuh mencit, dengan begitu tidak akan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap mencit yang diuji coba. Namun pada praktikum ini, mencit yang sudah diberi perlakuan (diberikan penambahan obat melalui sonde oral) mengalami penurunan aktivitas dan cenderung lebih banyak diam. Hal ini terjadi mungkin saja bukan karena NaCl fisiologis yang masuk ke dalam tubuhnya, melainkan karena kondisi psikis mencit tersebut mengalami stress karena terlalu banyak mendapat perlakuan.
·                 Pemberian obat pada hewan percobaan
1.    Pemberian Per Oral
Hal ini dilakukan dengan bantuan jarum suntik yang ujungnya tumpul atau berbentuk bola (jarum sonde). Jarum sonde dimasukkan kedalam mulut , secara pelan-pelan melalui langit-langit kearah belakang esophagus, kemudian cairan dimasukkan. Jika terasa ada hambatan mungkin melukai saluran nafas.  Maka dari itu jarum sonde di tarik dan dimasukkan kembali hingga tak ada hambatan. Berikut gambarnya :
IMG0108A.jpg  mencit per oral.jpg
       a. pada mencit                                                 b. pada tikus
2.    Pemberian Intra Peritoneal
Penyuntikan pada bagian perut  dimana jarum disuntikkan dengan kemiringan 30-45 derajat dengan abdomen agak kegaris tengah. Berikut foto cara pemberiannya :
2012-03-15 10.55.03.jpg  2012-03-15 11.17.57.jpg
       a. Pada Mencit                                                            b. Pada Tikus
3. Pemberian Intramuskular (im)
Penyuntikan dilakukan dalam otot misalnya, penyuntikan antibiotika atau dimana tidak banyak terdapat pembuluh darah dan syaraf, misalnya otot pantat atau lengan atas. Berikut foto cara pemberi   annya :
2012-03-15 10.48.52.jpg  2012-03-15 11.16.37.jpg
       a. Pada Mencit                                                            b. Pada Tikus
4.Pemberian Subcutan/Hipodermal (sc)
 Penyuntikkan dibawah kulit, Obatnya tidak mernagsang dan larut dalam air atau minyak, Efeknya agak lambat dan dapat digunakan sendiri misalnya : penyuntikan insulin pada penderita diabetes. Berikut foto cara pemberiannya :
2012-03-15 10.51.32.jpg  2012-03-15 11.14.47.jpg
a. Pada Mencit                                                            b. Pada Tikus
Faktor internal meliputi variasi biologik, ras dan sifat genetis, status kesehatan dan nutrisi, bobot tubuh dan luas permukaan tubuh mampu mempengaruhi hasil percobaan dalam efek farmakologi obat karena dosis yang sama pada suatu obat akan diterima berbeda oleh masing-masing individu hewan percobaan dengan segala bentuk perbedaan pada tiap-tiap individu hewannya.
Faktor eksternal yang meliputi suplai oksigen, pemeliharaan linkungan fisiologis, dan pemeliharaan keutuhan struktur ketika menyiapkan jaringan atau organ percobaan juga dapat mempengaruhi hasil percobaan dalam efek farmakologi obat, karena obat tersebut akan memberikan reaksi berbeda pada setiap kondisi lingkungan yang berbeda pula.
Rute pemberian obat dengan sonde oral harus diberikan sudah mencapai rahang mencit, karena jika tidak, obat yang diinjeksikan akn dimuntahkan kembali oleh mencit tersebut. Oleh karena itu, batang sonde oral dimasukkan kurang lebih ¾ bagian hingga terbenam ke dalam mulut atau rahang mencit tersebut.



PERTANYAAN :                        
1.      Apakah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi absorpsi obat?
2.      Jelaskan bagaimana perbedaan rute pemberian mempengaruhi onset dan durasi obat!
3.      Jelaskan keuntungan masing-masing cara pemberian obat!
JAWAB :
1.      faktor-faktor yang mempengaruhi  absorbsi obat adalah :
Ø  rute pemberian
Ø   letak posisi kurva
Ø   bentuk sediaan
Ø   Dosis
Ø   ukuran partikel
2.      Onset adalah lama waktu untuk mencapai kadar obat dalam darah mencapai MEC (MEC adalah kadar obat terkecil dalam darah yang sudah bisa menimbulkan efek)
Durasi adalah lamanya waktu kadar obat dalam darah dapat menimbulkan efek ( kadar berada pada MEC ataupun diatasnya).
Jadi rute pemberian disini berpengaruh terhadap waktu dan lamanya efek obat tersebut muncul. Untuk penggunaan peroral memiliki onset dan durasi yang lebih lama dibandingakan yang dengan cara injeksi. Karena rute per oral membutuhkan waktu untuk absorpsi dalam saluran pencernaan. Untuk injeksi sendiri yang memiliki onset dan durasi yang paling cepat adalah secara Intra Vena (IV), kerena langsung ke pembuluh darah. Baru kemudian injeksi Intra peritonial (IP), kemudian Subcutan (SC), dan terakhir Intra muscular (IM) yang memiliki onset dan durasi lama.
3.      Keuntungan masing-masing cara pemberian obat adalah :
Ø  Cara Pemberian Obat Intravena
 Keuntungan Cepat mencapai konsentarsi Dosis tepat Mudah mentitrasi dosis Kerugian Konsentrasi awal tinggi toksik Invasiv, risiko infeksi Memrlukan keahlian.
Ø  Cara Pemberian Obat Intravena Memerlukan persiapan karena : Daya larut obat yang jelek (solubility), memerlukan zat pelarut, sehingga kecepatan pemberian berhubungan dengan toksisiti (rate-ralated-toxicity).
Ø  Cara Pemberian Obat Intravemuskuler
 Keuntungan Tidak diperlukan keahlian khusus Dapat dipakai untuk pemberian obat larut dalam minyak Absorbsi cepat obat larut dalam air. Kerugian Rasa sakit Tidak dapat dipakai pada gangguan bekuan darah (clotting time). Bioavibilitas berfariasi. Obat dapat menggumpal pada lokasi penyuntikan.
Ø  Cara Pemberian Obat Subkutan
Keuntungan Diperlukan latihan sederhana Absorbsi cepat obat larut dalam air Mencegah kerusakan sekitar saluran cerna.
 Kerugian Rasa sakit dan kerusakan kulit Tidak dapat dipakai jika volume obat besar Bioavibilitas berfariasi, sesuai lokasi.
Ø  Cara Pemberian Obat Oral
 Keuntungan Tidak diperlukan latihan khusus Nyaman (penyimpanan,muda dibawa) Non-invasiv, lebih aman Ekonomis.
Kerugian “drug delivery” tidak pasti,tidak komplit. Sangat tergantung “kepatuahn pasien” (compliance) Tingginya Interaksi : obat + obat, obat-makanan Banyak obat rusak dalam saluran cerna. Exposes drugs to first pass effect.
Ø  Cara Pemberian Obat Sublingual/Buccal
Keuntungan Onset cepat Mencegah “first –pass effect Tidak diperlukan kemampuan menelan.
Kerugian Absorbsi tidak adekuat Kepatuhan pasien kurang (compliance) Mencegah pasien menelan.
Ø  Cara Pemberian Obat Rektal
Keuntungan Dpat dipakai jika pasien tidak bisa per-oral Dapat mencegah “first –pass –metabolism Pilihan terbaik pada anak-anak.
Kerugian Absorbsi tidak adekuat Banyak pasien tidak nyaman / risih per-rektal.
Ø  Cara Pemberian Obat Paru-paru . (pulmonary).
 Keuntungan Dosis dapat diatur (titrasi) Onset cepat Untuk Efek lokal : Mamfaat maksimal, efek samping minimal.
 Kerugian Koordinasi harus baik Pasien Penyakit paru, daya hisap tidak adekuat Variability in Delivery Efek : Lokal Efek : Sistemik


VI.             KESIMPULAN
Dari semua psroses percobaan diperoleh kesimpulan diantaranya :
1.        Perlakuan dan Penanganan tikus dan mencit dapat dilakukan secara baik dengan memperhatikan faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi kondisi hewan uji coba tersebut.
2.        Karakter mencit cenderung penakut dan lebih suka berkumpul dengan sesama. Pergerakannnya lebih banyak dibandingkan  dengan tikus dan lebih susah ditangani ketimbang tikus.
3.        Karakter tikus lebih mudah ditangani dibandingkan mencit karena minim pergerakan, namun apabila tikus tersebut diperlakukan secara kasar, biasanya akan menyerang si pemegang.
4.        Praktikum kali ini rute pemberian obat dilakukan dengan :
a.       Per oral : melalui dengan bantuan jarum sonde
b.      Subkutan : injeksi dimasukkan sampai kebawah kulit pada tengkuk
c.       Intramuskular : injeksi melalui otot pangkal paha
d.      Intraperitoneal : injeksi melalui kedalam ronnga perut ( tidak sampai masuk ke usus)


VII.          DAFTAR PUSTAKA
Anief, M., 1993, Farmasetika, Yogyakarta : Gadjah mada University Press
Marbawati , Dewi., dan Bina Ikawati, “Kolonisasi Mus musculus albino Di Laboratorium loka Litbang P2B2 Banjarnegara”, Balaba Vol. 5, No.01
Priyanto, 2008, Farmakologi Dasar Edisi II, Depok: Leskonfi
Tim Penyusun, 2007, Farmakologi dan Terapi Edisi V, Jakarta : Departemen Farmakologi FKUI
Sulaksono, M.E.,1987,” Peranan,Pengelolaan dan pengembangan Hewan Percobaan “, Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar